BAGAIMANA AKU BISA MENGETAHUI DUNIA DAN DIRIKU SENDIRI

Pengantar

Dunia dan manusia yang berelasi dengannya selalu berinteraksi satu sama lain untuk  mengenal dan memperkaya diri. Relasi ini disebut relasi komunikatif karena ada tindakan untuk memberdayakan dan memajukan satu sama lain. Namun, kenyataannya berbeda ketika manusia memiliki kuasa yang berlebihan atas dunia (alam) dan alam tunduk di bawah kuasa manusia. Namun, kita perlu memiliki studi khusus untuk mengenal dunia secara lebih mendalam dan mendekatinya sebagai subjek yang hidup bukan sebagai objek yang terpinggirkan. Di mana-mana kita mendengar kampanye ramah lingkungan. Kampanye itu bertujuan untuk menjaga harmonisasi antara dunia dan manusia. Darimana harmonisasi itu berasal? Dia berasal dari pengetahuan yang memadai tentang alam. Dengan demikian, pengetahuan adalah kebijaksanaan kreatif yang harus dimiliki dan dikembangkan dalam mendidik relasi yang positif dengan dunia. Seperti apa pengetahuan itu dan bagaimana pengetahuan itu menjadi sebuah kebudayaan baru bagi manusia serta relasi seperti apa yang harus dijaga agar pengetahuan manusia bukan berdampak negatif, tetapi memiliki prinsip ekologis yang sehat? Hal inilah yang akan dibahas secara mendalam dalam tulisan ini.

 

Pengetahuan Berawal dari Rasa Kagum

Aristoteles mengawali studi filsafatnya dengan pernyataan bahwa setiap manusia dari kodratnya ingin tahu.  Namun Sokrates, yang mendalami filsafat sebelum Aristoteles mengatakan bahwa  tak seorang pun manusia yang memiliki pengetahuan.  Pernyataan Sokrates ini berbeda dengan kenyataan pada jamannya di mana begitu banyak orang merasa bahwa mereka mengetahui segala sesuatu. Hal ini terjadi dalam diri kaum sofis yang terkenal dengan julukan ensiklopedi berjalan. Sebagai ensiklopedi, mereka mengetahui banyak hal dan siapa pun yang bertanya tentang sesuatu pasti mereka bisa menjawabnya. Di tengah kepercayaan diri yang berlebihan dari kaum Sofis itu, Sokrates datang untuk meredam kesombongan kaum Sofis dengan mengatakan  bahwa tidak seorang pun yang memiliki pengetahuan dan hanya Sokrates sendiri yang tahu pada saat itu bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.[1]

Kalau kita mengikuti pola pikir Sokrates, maka dunia ini tidak akan berkembang dan tidak ada yang namanya kemajuan. Descartes memiliki metode tersendiri dalam mendekati realitas. Dia memulai dari sebuah kesangsian atau keraguan atas segala sesuatu. Keraguan itu bukan sekedar keraguan biasa tetapi keraguan metodis. Keraguan metodis berarti keraguan yang memiliki unsur “hasrat” untuk mengetahui. Dengan demikian, Desartes ketika memandang realitas, dia tidak langsung memberikan kategori dan mendefinisikan realitas itu, tetapi dia meletakannya ke dalam kesadaran untuk melihat realitas dengan jelas. Keraguan metodis ini berakhir dalam pengenalan eksistensi (keberadaan) manusia. Semakin ia meragukan, semakin ia sadar bahwa dia ada. Maka bagi Descartes, ketika seorang manusia berpikir, maka sesungguhnya pada saat itu dia (sadar) bahwa dia ada.[2] Akan tetapi pengetahuan sebenarnya berawal dari rasa kagum. Kekaguman itu mengundang pertanyaan kritis dari manusia untuk mengenalnya dan setelah mengenalnya manusia memberikan kategori. Setelah pemberian kategori, manusia lalu mengetahui sesuatu. Inilah proses pengetahuan. Dengan demikian skemanya adalah realitas-à kekagumanà pertanyaanà Pemberian Kategorià Pengenalanà pengetahuan. Inilah skema pengethuan tentang relitas dunia yang dihidupi manusia.

Sebenarnya problem pengetahuan itu terletak dalam wilayah mana? Salah satu pencarian ilmuwan atau filsuf sejak dulu yaitu berusaha untuk menjawab sebuah pertanyaan ini,  kira-kira apa yang menjadi inti dari realitas? Para filsuf Yunani berbeda pendapat tentang itu. Anaximandes, menamakannya udara, Thales menamakannya air, Hieraklitos menyebutnya api, sedangkan Demokritos menyebutnya Atom. Para filsuf Yunani memberikan jawaban yang bersifat kosmologis.[3] Para filsuf modern menyebutnya substansi (Descartes) dan Monad (Leibniz), dan Allah dalam pandangan teologi katolik. Lalu manusia berada dalam posisi yang mana? Manusia adalah realitas otonom yang bergantung sepenuhnya kepada inti dari realitas itu. Demikian juga alam memiliki sifat ketergantungan yang sama. Namun alam dan manusia juga memiliki ketergantungan horisontal untuk menjamin hidup dan ketahanan satu sama lain.

Pengetahuan Sebagai Proyek Budaya

            Fakta yang tak disangkalkan adalah kenyataan bahwa amnusia adalah mahluk berbudaya sekaligus pembentuk kebudayaan. Pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan  proses budaya. Budaya memproduksi pengetahuan sehingga manusia bisa mengetahui dunia dan dirinya. Pengetahuan atas realitas entah dunia dan Allah berfungsi untuk mengenal dan mengetahuan keberadaan dirinya. Dengan demikian, adanya Allah diakui sejauh berguna untuk menjamin eksistensi diri manusia.[4] Demikian juga alam diakui keberadaannya sejauh dia memberikan sumbangan yang berharga bagi hidup manusia.

Ilmu pengetahuan menjadi langkah terakhir dalam perkembangan mental manusia dan boleh dibilang sebagai pencapaian tertinggi dan sangat karakterisitik dari kebudayaan manusia. Ilmu adalah produk yang lahir karena kebiasaan manusia untk mencari dan menemukan makna setiap realitas.[5] C.A. van Peursen dalam bukunya “Strategi Kebudayaan” mencatat tiga tahap perubahan, yakni alam pikiran mitis, ontologis dan fungsionil.[6] Di alam pikiran mitis, manusia menyusun suatu strategi, mengatur hubungan antara daya-daya kekuatan alam dan manusia. Sebab mitos memainkan peran penting dalam masyarakat primitif dan berfungsi untuk “menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan gaib, membantu manusia menghayati  daya-daya  tersebut sebagai suatu kekuatan yang memengaruhi dan menguasai sukunya.” Artinya, mitos menampakan kekuatan-kekuatan, menjamin kekinian dan memberi pengetahuan tentang dunia.[7]

Dari alam pikiran mitis yang ditandai dengan rasa takut terhadap daya-daya yang manusia belum mengambil jarak terhadap segala sesuatu. Peralihan dari mitis ke ontologis ditandai dengan pengambilan jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya. Dengan pengambilan  jarak atau distansi, manusia keluar dari kungkungan mitos dan mempertanyakan keberadaan “daya-daya” yang menggerakan manusia dan alam, tujuannya adalah untuk mengerti. Alam “pikir” ontologis merupakan suatu bentuk titik terang di mana manusia mencoba mengurai “mitis” yang oleh Max Mueller di sebut “bayangan gelap” dalam konteks bahasa kebudayaan.[8] Manusia tidak hanya hendak mengetahuai tentang “Ada” sesuatu melainkan sesuatu itu dipertanyakan, yakni “apa”nya para dewa yang menyangkut kodrat dan keberadaan para dewa. Pertanyaan tentang “apa”nya para dewa bukan dalam segi “arogansi” manusia melainkan pertanyaan yang disertai rasa hormat.

Dari tahap ontologis beralih ke tahap fungsional. Tahap fungsional bisa disebut sebagai koreksi kedua tahap di atas. Dalam tahap ini, manusia sudah membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan lain di luar keterbatasan dirinya. Manusia dalam tahap ini menjadi kreatif, inovatif dan ekspresif. Manusia mudah menciptakan sesuatu, menemukan sesuatu dan mengungkapkan sesuatu secara gamblang dan tentu dipenuhi rasa tanggung jawab.

 

Manusia dan Alam Sebagai Partner yang Hidup

Manusia berusaha untuk mempertahankan hidupnya. Dalam rangka mempertahankan hidupnya, manusia harus kreatif mengolah alam. Namun, fakta selalu berkata lain bahwa alam dikuras dan dirusaki serta dihancurkan habitatnya. Manusia semakin rakus dan ingin memiliki alam dan bukan memberdayakannya sebagai bagian internal di mana manusia hidup. Ada jarak yang sangat lebar antara manusia dan alam, sehingga manusia tidak menaruh hormat lagi terhadapnya. Pada tahap mitis, manusia sungguh menyatu dengan alam sehingga alam dihormati dan dihargai habitatnya. Dalam era modern ini alam menjadi objek yang harus dikuras dan dikuasai sedemikian rupa.

Relasi atas keduanya adalaah relasi instrumental yaitu sejauh alam berguna untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat manusia. Alam kemudian menjadi onjek yang harus tunduk di bawah kuasa manusia. Akibatnya adalah alam kian menampakkan taringnya untuk memberontak terhadap kekejian manusia. Bencana alam dianggap sebagai pemberontakan alam dan sebagai tanda bahawa relasi manusia dan alam sudah tidak harmonis lagi. Padahal alam dan manusia hendaknya berada dalam situasi harmonis. Prinsip kreatif dalam diri manusia semakin dirusakkan. Global warming (pemanasan global) adalah gejala yang semakin meresahkan jaman ini. Pemanasan global menjadi tanda bahwa alam sudah tidak sehat lagi. Dan penyakitnya bukan dari dirinya sendiri, tetapi dari ulah manusia yang dari hari ke hari menguasainya sedemikian rupa bahkan merusaknya.

Penutup

Pengetahuan dan tehnologi yang canggih di era modern ini sungguh memberikan warna dan wajah yang bertolak belakang. Di satu sisi perkembangan ilmu pengetahuan dant ehnlologi itu membantu manusia untuk mengembangkan dirinya, tetapi di sisi lain kemajuan itu membuat manusia menjadi pribadi yang otonom bahkan tanpa pegangan dan melihat realitas lain sebagai kenyataan yang bisa dikuasai untuk memenuhi keinginan manusiawinya. Kemajuan bisa berupa kebanggaan sekaligus keresahan. Karena kemajuan pengetahuan manusia, peradaban semakin canggih, namun karena kemajuan yang sama dunia semakin tidak jelas keadaanya. Belum lagi situasi moral manusia itu sendiri semakin menampakkan kekacauannya.

Pengetahuan hendaknya membawa manusia kepada sikap arif untuk mengembangkan yang lain bukan berusaha untuk memenuhi hasrat dirinya dalam megerdilkan yang lain. Dunia sebenarnya merupakan ruang yang luas untuk memenuhi tuntutan pengenalan diri manusia. Namun, ketika dunia dikenal hanya untuk dikuasai, maka dunia tidak akan memberikan apa-apa selain bahaya maut dan keterancaman hidup. Jadilah manusia bijak ketika berhadapan dengan dunia dan sesama.

 

 

 

Sumber Bacaan

Bagus,  Lorens, Kamus Filsafat . Jakarta: Gramedia. 1996.

Bakker,J.W.M. Filsafat Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius. 1992.

Cassirer, Ernst.  Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: Gramedia. 1987.

Gie,The Liang. Pengantar Filsaat Pengetahuan. Yogyakarta: Penerbit Andi. 1996.

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern . Jakarta: Gramedia. 2007.

Hadi,P. Pardono.  Epistemologi , Filsafat pengetahuan. Yogyaakrta: Kanisius.1994.

Peursen, C. A. Van. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.  2001.

 


[1] P. Pardono Hadi, Epistemologi , Filsafat pengetahuan (Yogyaakrta: Kanisius, 1994), hlm. 13.

[2] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia, 2007), hlm. 15.

[3] Kosmologi adalah cabang ilmu filsafat yang berbiaara tentang alam dan relasinya dengan manusia (Bdk. Lorens Bagus, Kamus Filsafat  (Jakarta: Gramedia, 1996) hlm. 97.

[4] The Liang Gie, Pengantar Filsaat Pengetahuan (Yogyakarta: Penerbit Andi, 1996), hlm. 25.

[5] Ernst Cassirer, Manusia dan Kebudayaan (Jakarta: Gramedia, 1987), hlm. 315.

[6] C. A. van Peursen, Strategi Kebudayaan (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm.  34-109.

[7] Ibid., hlm.35.

[8] J.W.M. Bakker, Filsafat Kebudayaan (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 67.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s