CATATAN PEZIARAH

Waktu liburan sudah lewat 10 bulan yang lalu, tepatnya bulan juli yang lalu. Bulan-bulan yang berdekatan  dengan waktu liburan itu banyak kisah yang diingat tapi sedikit saja yang dimaknai bahkan hampir tidak dimaknai sedikitpun. Catatan ini hendak memaknai satu kisah kecil yang aku alami selama menginap semalam di Lombok-Mataram.  Akhir-akhir ini baru aku menemukan makna yang berharga dari kisah itu. Kisah itu adalah seputar jalan-jalan pagi menacri kopi dan surat kabar harian di kota itu.

Waktu aku bangun pagi di kota itu, kulihat  jam tanganku menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dengan segera aku melewati jalan kecil untuk mencari warung kopi  plus surat kabarnya. Aku melirik ke beberapa warung, yang ada  hanya jual gorengan dan nasi bungkus yang siap saji. Aku pun bergumam, tujuanku bukan  mencari makanan seperti ini. Aku pun masuk lebih jauh lagi. Tanpa sengaja, saya  berdiri santai di depan sebuah warung dan tidak ada indikasi sedikitpun kalau warung itu ada jual kopi panasnya. Bermodalkan rasa percaya diri, saya melemparkan sebuah pertanyaan ke seorang nenek tua yang menjaganya. Nek’ ada jual kopi dan surat kabar ya?

Sang nenek tua itu dengan ramah menyambut pertanyaanku dan dengan segera melayani aku. Sambil melayaniku, dia memberikan sebuah pertanyaan yang cukup membuatku sedikit gusar dan berkerut dahi. Dia bertanya kepadaku tentang statusku, “mas, orang jawa yang dan agamanya mas apa”? sebelum saya menjawab, dia bertanya lebih lanjut, “ Islam ya”?. Dengan sedikit kecewa saya menjawabnya, saya katolik ibu. Ada apa ibu? Jujur, saya memberikan penjelasan lanjutan kepada  nenek tua itu, inilah pertanyaan langka bagiku dan saya cukup terusik, demikian aku menjelaskan kepadanya. Nenek itu menajwab dengan sedikit gemetar, mas, jarang juga saya melayani orang katolik selama ini karena di sini mayoritas muslim. Sesuatu yang lebih aneh lagi ketika dia meneruskan penjelasannya begini, mas, masuk islam lho enak, kita bisa naik Haji, sedekah dan ada sholat lima waktu. Dengan nada sedikit tegang saya menimpali,  bu, tidak penting itu dia muslim, katolik atau kafir apalagi kita bertanya keberadaanya, kafir atau bergama. Yang cukup penting sekarang, hayati hidup masing-masing menurut caranya masing-masing. Yang  islam menjadi islam beneran,  demikian juga saya yang katolik. Hidup baik saja sudah cukup bahkan tanpa dia beragama. Tidak ada agama yang lebih baik di dunia ini dan tidak ada  juga yang lebih buruk. Masing-masing agama mewartakan nilai kebenarannya amsing-masing dan tidak elegan kalau kita memaksa kebenaran agama kita kepada pemeluk agama yang lain

Dewasa ini agama belum dihayati sebagai institusi yang memproduksikan sebuah nilai penting. Agama masih berupa tanda pengenal semata. Cukup tertera islam dan katolik atau apa pun pada KTP, sudah cukup. Soal penghayatan, ditangguh dulu. Itu perkara lain. Inilah ciri orang yang fanatik dengan agamanya, namun hidupnya tidak memiliki warna religius sedikit pun. Mereka-mereka inilah pelopor tindakan anarkis dan memupouk rasa benci kepada yang lain.

Sebelum saya sampai di Lombok, di dalam Bis yang saya tumpangi ada seorang  warga asing dari Jerman. Namanya masih saya ingat dengan baik yaitu Thomas Frieks. Saat itu dia memberikan alamat emailnya dan nama Fbnya sekaligus. Dengan modal Inggrisku yang tidak kurang lancar, saya berkomunikasi dan berbincang-bincang tentang banyak hal, baik politik maupun aliran-aliran filsafat dan seputar kehidupan para filsuf di negerinya. Kebetulan dia juga penggemar filsuf Jurgen Habermas dan hal ini membuat aroma diskusi sedikit bermutu walau inggrisku patah-patah. Cukup mengesankan karena selama perbicangan itu, tidak sedikit pun diskusi yang menyentuh sisi religius atau Tuhan. Dan saya tidak mau bertanya tentang itu karena hal itu cukup sensitif baginya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s