LORONG GELAP

Saat itu aku termenung sendiri di sudut kamarku yang mungil berukuran 2×3 M. Di sanalah aku mengukir seuntaian kata indah untuk mengenang dia yang jiwanya tumbuh subur di ladang hatiku yang luas. Aku tak tahu, dia hinggap di bagian yang mana dari hatiku yang luas ini. Saat itu aku menulis demikian: “ Cinta itu tidak diasalkan dari orang lain. Cinta itu ada di dalam diri. Namun, orang lain sangat diperlukan untuk membangkitkan cinta. Tanpa orang lain, cinta itu tidak akan bertumbuh, tetapi hanya seonggokan harapan yang selalu merana dan kesepian. Orang lain yang aku namakan Eleanora adalah pembangkit cinta bagiku. Engkaulah pribadi yang tepat untuk mengisi ruang rindu yang selalu kosong dan nyaris tak terisi apa pun”. Engkau memberikan pesan bagiku seperti nubuat para nabi yang sungguh menukik perasaanku dan menggugas seluruh daya dan pikiranku untuk sesegera mungkin bertindak. Namun, engkau melakukan hal itu tidak lebih dari sebuah ajakan. Dia yang mengajak aku melewati sebuah lorong gelap itu adalah Eleanora. Mendengar sebutan nama ini di saat-saat awal perjumpaanku dengannya, aku begitu kagum dengan suatu nama. Sungguh tidak lebih dari sekedar mengagumi sebuah nama. Sebuah nama yang Indah dan menawan. Ternyata bukan hanya namanya yang indah, tetapi keseluruhan dirinya sangat indah bak mawar putih yang aku kagumi pada musim-musim tertentu di tempat tinggalku. Melewati hari-hariku tanpa memikirkannya, seperti hidup itu tidak lengkap. Pertemuan itu rasanya sebuah kebetulan belaka. Dan kami didorong oleh peristiwa kebetulan itu. Peristiwa kebetulan itu mengantar kami pada suatu rasa yang orang sebut sentuhan Chemistry. Sebuah sentuhan yang mengundang reaksi kimiawi yang berujung pada satu kata yaitu CINTA. Semula aku tidak mengerti mengapa semuanya berjalan mulus seolah ada seorang guide yang menuntun peristiwa kebetulan itu untuk menjadi seolah-olah merupakan sebuah rancangan yang sungguh dipersiapkan. Kalau terus dipertanyakan, semuanya berujung kepada misteri yang sulit dipecahkan. Memang cinta itu misteri. Di ruang mungil yang sama, aku menulis catatan singkat tentangnya demikian: “ Eleanora, mengapa aku harus melewati lorong-lorong sempit dan gelap untuk menemukanmu sebagai sang cahaya jiwaku? Engkau kujadikan pelita yang aku simpan di atas kaki dian dengan harapan engkau bisa memberikan cahaya ke duniaku yang kecil ini. Aku mengumbarkan suatu pertanyaan sebagai bentuk pemberontakkan kecil, tidak adakah jalan yang mudah bagiku untuk menemui dunia kehidupanmu? Mungkin nasib ini sudah menjadi suratan bagiku untuk menemuimu lewat jalan itu dan hal ini tidak bisa aku tolak selain harus aku lalui. Aku mencari jejak-jejak kakimu untuk mengetahui apakah kamu juga melewati lorong yang sama saat hatimu menembus masuk ke wilayah kehidupanku? Namun, sama sekali tidak! Jejakmu tidak aku temui. Lalu, engkau melewati jalan yang mana? Ternyata lorong ini hanya untukku. Kamu harus tahu, meski aku melewati lorong yang gelap, sempit dan sedikit angker ini, yang aku bawa yaitu CINTA tidak pernah hilang diterpa badai ketakutan. Melewati jalan ini adalah kewajibanku dan menemuimu adalah tujuanku, demikian aku bergumam sendirian. Aku berharap, engkau tetap menantikan kedatanganku sambil berharap bahwa suatu saat perjuanganku akan memetik hasil yang indah pada waktunya”. Inilah catatan kecilku di minggu yang kedua sehabis berjumpa dengannya. Aku terlalu sibuk, demikian dia juga terlalu sibuk dengan tugasnya, sehingga komunikasi sempat mandeq. Namun, di tengah kesibukan itu, berpikir tentang dia tidak pernah terlewati. Atas rasa ini, aku pun mengambil catatan kecil dan menulis: “ Eleanora, kabarmu di sana aku tidak tahu. Namun, hati ini selalu mengisyaratkan rasa percaya di dalam diri bahwa engkau tetaplah baik-baik saja. Eleanora, mungkin belum saatnya mata ini harus ketemu mata, tetapi satu hal yang tak bisa kita sangkal, sudah saatnya hati ketemu hati walau raga tak pernah menampakkan diri satu sama lain. Katanya, semakin jauh jarak itu dibangun, rasa cinta itu semakin tumbuh seperti bunga di ladang yang selalu subur. Entah apa yang membuat dirinya subur, kita tidak tahu. Lagi lagi, hatiku berbisik, itu semua terjadi karena rasa percaya sungguh terjaga dan tak pernah tetidur. Pernah aku mencoba melanggar, tetapi sepertinya semesta menuntunku untuk kembali, jalanku adalah menempuh lorong-lorong gelap untuk menemukan sang cahaya dan sang cahaya itu adalah kau……..ELEANORA”. Bagaimana kisah ini selanjutnya, aku juga tidak tahu karena setiap saat dalam hidup memiliki kisah dan ceritanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s