PEKERJAAN SEBAGAI PERGULATAN SUBYEKTIF MANUSIA ( Berkaca Pada Dokumen Laborem Exercens No.6)

Pengantar

Dengan merujuk kepada dasar biblis pekerjaan, manusia sebagai citra Allah, manusia adalah rekan kerja Allah dalam memelihara alam semesta. Hubungan manusia dengan seluruh alam merupakan partisipasi dalam hubungan Allah dengan seluruh ciptaan. Manusia harus menyadari bahwa kuasa yang diberikan Allah kepadanya bukanlah kuasa untuk memanipulasi dan mendominasi. Peran Allah dalam mencipta dan memelihara seluruh alam, juga menjadi tugas manusia.

Pekerjaan adalah tindakan khas manusia. Manusia disebut sebagai mahluk pekerja (Homo Faber). Dalam pekerjaan manusia mengolah alam. Ketika manusia mengolah alam pada saat yang sama alam mendapat bentuknya yang manusiawi, tindakan khas manusia itu  tanda bahwa manusia memiliki unsur kreativitas yang sangat hidup dan menjadi bagian martabatnya sebagai manusia.  Siapakah manusia dalam dan melalui pekerjaanya ketika pekerjaan manusia diambil alih oleh tenaga mesin dalam proses produksi? Di manakah letak prinsip manusiawi pekerjaanya serta apa makna kerja bagi manusia?

 

Manusia sebagai mahluk pekerja

Pada bagian ini saya mendeskripsikan lagi apa arti pekerjaan bagi manusia secara subyektif.  Referensi utama tema ini  diambil dari dokumen ajaran sosial Gereja Laborem Exercens no.6 yang melukiskan secara gamblang martabat manusia sebagai mahluk pekerja. Nomor ini lebih memusatkan perhatian pada kerja dalam arti subyektif melebihi makna obyektifnya.

Manusia harus menaklukan bumi dan menguasainya, inilah inti pesan Kitab Kejadian yang melihat manusia sebagai rekan kerja Allah dan hal ini bersumber dari pandangan manusia sebagai citra Allah sendiri (Imago Dei). Manusia adalah subyek yang mampu bertindak secara berencana dan rasional, mampu mengambil keputusan tentang diirnya dan membawa dorongan kepada perwujudan diri melalui kerja. Maka manusia selaku pribadi menjadi subyek tunggal atau pelaku kerja. Sebagai pribadi ia bekerja yaitu pribadi yang menjalankan perbagai tindakan yang termasuk proses kerja. Kegiatan itu harus mendukung realisasi kemanusiaanya dan terpenuhinya panggilannya selaku pribadi yang bersumber dari martabatnya sebagai manusia. Kebenaran utama tentang tema ini sejatinya terdapat dalam dokumen konsili vatikan II yaitu Gaudium et Spes.

Kesaksian biblis yang telah dicantumkan di atas mau merenungkan pola hidup manusia sebagai pekerja bukan hanya dari sisi obyektifnya tetapi sisi subyektifnya.  Jika kita memahami kerja manusia sebagai proses menaklukan bumi, maka kerja hanyalah menepati pengertian kitab suci yang mendasarinya yaitu manusia yang membawakan dan meneguhkan diri sebagai dia yang berdaulat. Dalam hal ini kedaulatan manusia sebagai pekerja lebih mengarah kepada sisi subyektif daripada sisi obyektifnya. Dimensi subyektif itu menentukan sifat etis dari kerja karena yang menjalankannya adalah pribadi. Kebenaran inilah yang menjadi relevansi yang berarti dalam merumuskan problem-problem sosial sepanjang masa.

Diferensiasi dalam masyarakat telah menghasilkan kelas-kelas sosial. Kelas-kelas sosial inilah yang  menjadi pemicu munculnya pembagian kerja dalam masyarakat. Kelas yang tinggi (elit) tidak mau mengerjakan hal-hal yang berat dan kasar. Pekerjaan-pekerjaan itu diserahkan kepada masyarakat kelas yang lebih rendah yaitu para budak. Para budak inilah yang bekerja bukan karena dorongan manusiawi  untuk merealisasikan martabatnya sebagai pribadi yang bekerja. Corak kerja ini bertentangan dengan corak injili kerja karena pola kerja tidak melihat kenyataan manusia  pelaku kerja sebagai pribadi.

Dasar dari prinsip manusiawi dari kerja adalah pelaku kerja adalah manusia sebagai pribadi. Di sini perlu mengakui keunggulan peran subyektif dalam kerja tanpa di lain pihak menafikan sisi obyektifnya. Namun hal yang sangat penting dan vital adalah manusia itu sendiri. Pekerjaan untuk manusia dan manusia bukan hidup untuk pekerjaan. Kalimat ini akan ditafsir lebih jauh dalam pembahasan berikutnya.

Inilah isi artikel no. 6 dari Laborem Exercens yaitu sebuah dokumen yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II dalam memperingati hari ulang tahun ke-9 dari ensiklik ’Rerum Novarum’ yang dikeluarkan oleh Paus Leo XII tahun 1891. Artikel ini akan dilihat latar belakang pemunculannya dan usaha penulis untuk menelurkan berbagai makna kerja yang sejati bagi manusia sebagai pekerja dan upaya untuk memberikan justifikasi singkat berupa pandangan penulis tentang kenyataan konkret yang dihadapi dunia dewasa ini.

 

 

 

Makna Kerja Bagi Manusia Sebagai Subyek Tunggal Kerja

Kitab kejadian menyajikan kepada umat Kristen kisah penciptaan dunia dan dosa pertama Adam dan Hawa yang menyebabkan terlemparnya mereka keluar dari kebahagiaan Eden beserta konsekuensi yang harus mereka tanggung atas pelanggaran mereka itu. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan di sini sebagai akibat terlemparnya mereka dari kebahagiaan Eden. Pertama, kepada perempuan Hawa dan keturunanya dikenakan hukuman kesakitan dan penderitaan yang hebat waktu melahirkan. Kedua, kepada pria, Adam dan semua keturunannya dikenakan hukuman kerja keras dengan berpeluh keringat dalam mencari nafkah. Pada saat itu kerja sudah menjadi bagian dari pergulatan manusia yang tak terelakan lagi. Prinsipnya, mau bekerja atau mati. Karena sejatinya manusia itu harus bekerja untuk mempertahankan hidup. Dengan demikian kerja adalah milik tunggal manusia yang sedang membentuk peradabannya. [1]

Kerja merupakan sebuah kemutlakan bagi manusia. Secara faktual, manusia  bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.[2] Pemenuhan kebutuhan hidup hanya diperoleh lewat tindakan kreatif manusia dalam mengolah alam. Alam memberikan sumbangan bagi manusia untuk mengembangkan dirinya dengan demikan tindakan rakus dan kekuasaan yang tiranik atas alam tidaklah benar. Kemudian ketika manusia sendiri yang berkreasi atas alam, maka sangatlah tidak manusiawi ketika tenaga manusia digantikan secara legal oleh mesin-mesin sebagai penciptaan tunggal tehnologi modern.

Meskipun ensiklik ini dikeluarkan pada saat ulang tahun Rerum Novarum yang ke-9, sejatinya dokumen ini merupakan tanggapan atas situasi dunia kerja yang secara perlahan mengesampingkan peran manusia dalam hal bekerja pada awal revolusi industri atau pergantian dari sistem agraris ke industrial. Tenaga manusia digantikan dengan tenaga mesin. Dengan demikian manusia sebagai subyek dalam bekerja tidak mendapat ruang yang sangat besar.

Mahluk manusia adalah subyek kerja yang sebenarnya karena sebagai seorang pribadi, tindakan-tindakan kerja haruslah  mewujudkan kemanusiaan seseorang. Pribadi manusia tidak dapat menjadi budak mesin. Karena pribadi yang bekerja maka kerja sungguh berdimensi etis. Pada saat bekerja, dia secara matang sudah memutuskan dirinya.

Dewasa ini, pekerjaan manusia ditinggikan dan diperlengkapi dengan tehnologi modern. Namun tehnologi yang sama juga menghalangi kreativitas, kepuasan kerja, tanggung jawab dan kesempatan kerja. Kerja di zaman industrial menentang segala bentuk pemikiran materialistis dan ekonomistis yang memperlakukan pribadi manusia lebih sebagai barang dagangan daripada subyek kerja.[3] Pemkiran materialistis terutama terjadi  pada zaman kapitalisme memuncak di mana tenaga kerja manusia diperjual belikan dengan upah yang sangat kecil. Situsai inilah yang menjadi latar belakang munculnya pemkiran Karl Marx dalam bukunya yang berjudul Das Kapital itu. Buku ini mau mempertentangkan teori diferensiasi sosial dalam masyarakat yang ditandai adanya kaum elit dan para budak (marginal) sebagai pekerja dan pelayan bagi kaum elit (borjuis).[4]

Kerja manusia memiliki dua makna ganda yaitu obyektif dan subyektif. Dalam arti obyektif, kerja merupakan jumlah aneka kegiatan, sumber daya, sarana serta tehnologi yang digunakan manusia untuk menghasilkan barang-barang untuk menaklukan bumi dan berkuasa atasnya. Sedangkan dalam arti subyektif, kerja adalah kegiatan pribadi manusia sebagai mahluk dinamis yang mampu melaksanakan aneka ragam tindakan yang merupakan bagian dari proses kerja dan yang bersepadanan dengan panggilan pribadinya.

Kerja dalam arti obyektif adalah segi yang dapat berubah dari kegiatan manusia yang senantiasa bervariasi dalam bentuk ungkapannya sesuai dengan kondisi-kondisi tehnologi, budaya, sosial, dan politik yang tengah berubah. Namun kerja dalam arti subyektif lebih memusatkan perhatian kepada martabat manusia yang bekerja. Segi subyektif ini tidak bergantung pada orang-orang yang menghasilkannya atau pada jenis kegiatan yang mereka lakukan.[5] Pemilahan ini penting untuk mencermati martabat para pekerja maupun berbagai kesukaran yang terjadi dalam menata sistem ekonomi dan sosial yang menghormati hak asasi manusia.

Terlepas dari sisi obyektifnya, kerja merupakan ungkapan yang sangat hakiki dari pribadi yang bersangkutan. Kerja lebih mengedepankan actus personae karena manusialah yang bekerja. Segala bentuk materialisme yang menjadikan tenaga kerja manusia sebagai komoditi belaka, disisihkan dari tradisi pekerjaan. Dan sekarang saatnya untuk merevolusi cara kerja yang demikian. Pribadi manusia adalah takaran bagi martabat kerja.[6]

Matra subyektif kerja harus ditempakan lebih dahulu dari matra obyektifnya karena pribadi manusialah yang terlibat dalam kerja seraya menentukan mutu dan nilai pelaksanaannya. Apabila kesadaran ini lepas dari kesadaran manusia pekerja atau orang memilih untuk tidak mengakui kebenarannya, maka kerja akan kehilangan daya dorong dan maknanya yang paling mendasar. Namun terjadi juga bahwa pekerjaan dengan menggunakan tehnologi mesin sering terjadi dan tersebar luas di mana-mana dan tidak mementingkan pribadi manusia sendiri yang menjadi pemilik tunggal atas pekerjaan itu[7]. Kenyataan ini sudah berubah menjadi musuh bagi martabatnya.

Kerja tidak hanya berasal dari pribadi tetapi juga secara hakiki ditata menuju dan memiliki sasaran akhirnya pada pribadi manusia. Di sini kerja diarahkan kepada subyek yang melaksanakannya karena tujuan kerja, jenis kerja mana pun adalah selalu untuk manusia. Kenyataan ini harus berdampak kepada perwujudan diri manusia dalam dan melalui kerja. Pribadi manusia itulah yang menjadi tujuan kerja entah kerja dalam bentuk apa pun bahkan kalau itu dilihat hanya sebagai pengabdian belaka.

Kerja adalah kewajiban bagi manusia karena kerja adalah tugas di pihak manusia. Manusia mesti bekerja baik karena sang pencipta telah memerintahkannya maupun dalam rangka menanggapi kebutuhan untuk mempertahankan serta mengembangkan kemanusiaannya sendiri. Kerja ditampilkan sebagai suatu kewajiban moral terhadap sesama, masyarakat dan bangsa. Kita adalah ahli waris dari kerja  dan banyak generasi akan menikmati dunia yang telah kita kelolah itu  dan pada saat yang sama menjadi pembentuk masa depan dari semua orang yang akan hidup sesudah kita.[8]

Melalui pekerjaan juga manusia menegaskan jati dirinya secara fundamental sebagai manusia yang diciptakan seturut rupa dan gambar Allah. Walau dalam kenyataannya manusia melalui kerjanya merupakan ekspresi untuk menguasai bumi dan juga melalui kerjanya ia berdaulat atas alam yang kelihatan namun dalam segalanya Allahlah yang memegang kendali atas Alam dan menata alam menurut kehendakNya. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa Allah juga menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan seturut citra dan gambarannya sendiri dan berdasarkan kemauan bebas Allah. Hal ini menerangkan kegiatan manusia di dalam alam semesta bahwa manusia bukanlah pemilik alam semesta tetapi orang-orang yang kepadanya alam itu dipelihara dan dari tindakannya itu manusia memantulkan di dalam cara kerja mereka sendiri gambaran dari Dia yang di dalam keserupaan denganNya mereka telah diciptakan.

 

Manusia Sebagai Produk Kerjanya Sendiri

Pekerjaan adalah perealisasian diri manusia. Sebagai perealisasian diri, manusia di dalam pekerjaan itu mewujudkan dirinya. Adalah penting untuk memperhatikan bahwa dalam pekerjaan itu ada dua hal yang terjadi. Pertama, manusia mengubah sebuah objek alami. Objek itu tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ia menerima bentuk baru, bentuk yang diberikan kepadanya oleh si pekerja. Dengan kata lain, melalui pekerjaan, alam memperoleh bentuk baru yaitu bentuk manusia. Maka alam menjadi alam manusiawi. Pada level ini manusia memamerkan kekuatan-kekuatannya. Kesadaran ini menumbuhkan kepekaan ekologis dalam diri manusia untuk melucutkan kehausan manusia untuk menguasai alam dan mengeruk darinya demi kepuasan pribadi manusia.  Sehingga penting untuk memelihara hubungan mutualisme antara keduanya dan bersifat interdependensi (kesalingtergantungan) dan saling memelihara. Alam ada untuk manusia dan manusia mempunyai kewajiban untuk menghargai alam yang mempunyai hukum kehidupannya sendiri. Kedua, Dengan manusia mengeluarkan kekuatan-kekuatan hakikatnya kepada alam, ia membenarkan atau membuktikan diri sebagai pekerja.[9] Apa yang semula hanya berupa bakat dan kemungkinan semata-mata, menjadi kenyataan dalam diri manusia. Karya manusia memberikan kesaksian tentang apakah manusia itu. Bahkan hanya melalui tindakan, manusia bisa keluar dari kemungkinan umum dalam diri manusia dan masuk ke dalam wilayah yang konkret dan jelas. Oleh karena itu pekerjaan merupakan perealisasian diri manusia.

Perlu diperhatikan juga bahwa selain pekerjaan itu sebagai perealisasian diri manusia, melalui kerja juga manusia turut ambil bagian dalam tindakan manusia dalam pembangunan diri umat manusia. Kenyataan bahwa manusia sebagai pribadi yang bekerja bukan hanya membangun dirinya tetapi keluar dari lingkungan privatnya dan terjun ke dalam arena mondial dengan memperhatikan kehidupan dan pergulatan seluruh umat manusia. Ia kemudian membentuk sejarah karena hasil kerjanya itu bukan saja untuk dinikmati oleh generasi sekarang tetapi juga oleh generasi berikutnya yang sama-sama sedang bergulat dalam sejarah yang terbingkai oleh ruang dan waktu.[10]

Dengan manusia mengubah dunia ke bentuknya yang manusiawi, pada saat yang sama ia juga mengubah ruang tempat generasi berikutnya menemukan diri.[11] Generasi berikut harus bergulat dengan sebuah dunia yang sudah diambil alih oleh para pendahulunya. Demikian selanjutnya terjadi secara otomatis seturut prinsip evolutif dunia. Entah perubahan yang terjadi ke dalam bentuknya yang lebih baik lagi atau malah tereduksi ke arah yang kurang baik. Namun kalau kenyataannya manusia sadar bahwa dengan pekerjaan, manusia memberi bentuk manusiawi atas alam atau dunia, maka alam atau dunia tempat manusia berdiam itu tidak  pernah berkembang ke arah yang destruktif tetapi produktif dan indah. Sebagaimana manusia merawat diri dan mencintai dirinya, demikian ia juga merawat dunia tempat tinggalnya dan tempat di mana ia bergulat dalam bentuk kerja.

 

Refleksi Etis

Namun kepincangan terjadi ketika tenaga manusia disisihkan dan digantikan dengan tenaga mesin. Apakah alam atau dunia yang dibentuknya serta benda sebagai hasil kerjanya mendapat bentuk manusia atau bukan? Apakah dibenarkan sebuah tesis bahwa benda yang menjadi hasil produksi mesin mendapat wajah mesinnya juga ketimbang wajah manusiawinya? Ensiklik ini sebenarnya mau menjawab tuntas kondisi kerja dewasa ini atau yang permulaanya terjadi pada masa revolusi industri di mana terjadi pergantian corak kehidupan masyarakat dari corak agraris ke corak industrial. Dalam masyarakat industrial yang ditekankan adalah quantitas produksi daripada kualitasnya. Dalam kekacauan ini, manusia dilihat sebagai komoditi dagang dalam pekerjaan dan sekaligus pada saat yang sama sebagai pihak pasif yang menunggu perintah mesin-mesin.

Dalam kenyataan ini, sisi kreativitas manusia sangat mandul karena tidak mendapat tempat yang dominan dalam proses produksi. Maka paus Yohanes Paulus II menganjurkan agar perlu adanya revitalisasi proses produksi di mana martabat manusia pekerja diperhatikan dan kebudayaan mesin yang memperbudak manusia layak dilucuti. Situasi ini bukan hendak menolak kehadiran kemajuan tehnologi yang muncul dalam rupa mesin-mesin produksi. Yang diharapkan bahwa mesin-mesin itu ada untuk melayani manusia bukan manusia datang untuk melayani mesin-mesin.

Ketika mesin-mesin berkuasa atas dunia pekerjaan , maka pribadi manusia sebagai agen tunggal pekerjaan terlempar. Situasi keterlemparan ini berdampak pada penilain manusia atas diri dan dunia tempat dia bekerja. Manusia dalam situasi ini mengalami alienasi (keterasingan) yang hebat baik dengan dirinya, masyarakat maupun hasil pekerjaannya sendiri. Ada distansi yang begitu hebat antara manusia dan dirinya. Dan pada saat yang sama hubungannya dengan sesama juga mengalami keretakan. Mungkin menjadi lebih baik kalau pekerjaan itu bukan hanya terbatas pada usaha untuk memenuhi kebutuhan semata tetapi merupakan tindakan khas manusia yang menggambarkan dirinya sebagai co-creator Allah dalam memelihara dan mengembangkan ciptaan Allah yang lainnya. Dengan demikian kerja demi upah sangatlah tidak diperhitungkan dalam prinsip ini. Maka benarlah kritik Karl Marx atas pekerjaan demi upah. Pekerjaan demi upah selain menciptakan kesenjangan sosial juga memberangus kreativitas pribadi manusia yang sejatinya adalah seorang pekerja yang harus dihargai martabatnya bukan hanya karena sistem upahan.

 

Penutup

            Pekerjaan bagi manusia bukanlah sebuah kutukan atau hukuman tetapi sebuah anugerah dari Allah dan menjadi tanda bahwa manusia itu adalah gambaran Allah sendiri. Gambaran dari wajah Allah yang bertindak sebagai pencipta. Manusia juga adalah pencipta walaupun hanya pada level rekan kerja. Namun posisi manusia yang produktif tidak bisa dikalahkan dengan sistem yang salah di mana faktor di luar diri manusia menjadi pemegang kendali atas produksi.

Dengan penilaian manusia dari sisi produksi atas benda dan nilai, maka segi kreativitas dari manusia harus dijunjung tinggi. Manusia adalah peribadi yang produktif. Segala apa yang ada hendaknya keluar dari pergulatan manusai sendiri yang disebut kerja. Sarana yang lain hanyalah bernilai instrumental yang memperlancar kerja manusia. Sangatlah janggal kalau dalam proses produksi ada klaim bahwa benda dan nilai ayng ada adalah milik tunggal sarana-sarana yang dipakai manusia karena sarana-sarana itu lebih berkuasa dan dihargai perjuangannya daripada manusia yang pada hakikatnya berkuasa atas sarana-sarana itu.

           

 

Daftar Bacaan

 

Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, Kopendium Ajaran Sosial Gereja (terj.), Ledalero:maumere.

Michael, Agung ChristiPutra. Hands-out ASG

Susanto, Alexander Y.H. 2005. Nabi Segala Zaman. Ledalero:Maumere.

Suseno, Frans Magnis. 1992. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis.Kanisius: Yogyakarta.


[1] Alexander Y.H. Susanto, Nabi Segala Zaman, Ledalero:maumere,2005,.hal.115.

[2] Ibid.,hal.117.

[3] Mateus Agung Christiputra, Hands-out ASG, hal. 3.

[4] Frans Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis,Kanisius: Yogyakarta,1992,hal.136.

[5] Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, Kopendium Ajaran Sosial Gereja (terj.), Ledalero:maumere,hal.188.

[6] Ibid.,hal.189.

[7] Ibid.,hal.189.

[8] Ibid.,hal.191.

[9] Frans Magnis Suseno, Op.Cit.,hal.137.

[10] Ibid., hal.138.

[11] Ibid., hal.138.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s