Mengenal cinta dan kenangannya

 

mengenal

Relasi diawali dengan tahap pengenalan. Tidak ada prinsip relasi yang tidak diawali dengan perkenalan. Hanya mukjizat yang mampu mengantar relasi  yang tak diawali dengan perkenalan menjadi akur. Mengenal menjadi prinsip utama dan pertama. Bagaimanakah awalnya kalian berkenalan satu sama lain??

Dikenal maka disayang

Adagium kuno ini masih berlaku dan nyata dalam rajutan pengalaman hidup manusia dewasa ini. Tidak seorangpun menyanyangi pribadi yang tidak dikenal. Menyanyangi tanpa tidak mengenal subyek yang disayangi sangat mustahil. Yang ada hanyalah nafsu dan keserakahan.Kapan saya mengatakan sayang kepadanya yang berujung pada penyatuan

cinta

Kalau cinta didefinisikan, begitu banyak deretan definisi yang kita bangun dantemukan. Kadang orang mengatakan cinta itu tak terdefinisi. Bagaimana pun, ketika cinta masuk dalam kategori seperti perasaan, dia harus didefinisi.

Definisi pertama : cinta adalah tautan hati satu dan yang lainnya dalam bingkai kasih sayang dan cinta kasih. Definisi ini  masih sangat dangkal dan tidak menyentuh titik terdalam dari pengalaman manusia.

Definisi kedua: cinta: tak terkatakan. Sebuah “ aha eksperience”

Ketika cinta tak terkatakan, apa itu cinta sebenarnya jika tak terkatakan? Kita harus berbicara seperti apa ketika kita berbicara atau memberikan komentar tentang cinta? Ada aneka jawaban. Salah satunya bahwa saya akan mengatakan semua pengalaman saya yang mengantar saya kepada satu dunia baru yaitu dunia yang ada sebagai leburan antara aku dan kau yang menjadi kita. Kekitaan yang dirajut secara bersama berserta tahap-tahap ke- kekitaan itu kunamakan “kita cinta”

Bagi seorang Plato (filsuf Yunani),  CINTA adalah moment dalam hidup ketika kamu dapat menahan keinginanmu akan kesempurnaan. Waktu tidak bisa berjalan mundur dan hanya cinta yang memungkinkan kamu menerima apa adanya.

Baginya cinta selalu berlanjut pada pernikahan dan itulah puncak dari pencarian kesempurnaan tersebut. Kesempurnaan hidup tidak secara mutlak terangkum dalam pernikahan. Melalui pernikahan kita belajar untuk menerima kekurangan dan memberi kelebihan. Kita tidak hanya berhadapan dengan kelebihan semata, tetapi juga siap menerima, mengisi serta menata ketidaksempurnaan hidup dengan CINTA yang tulus.

 

Cinta  dan ego

Cinta tidak pernah untuk dirinya. Dia selalu mengarah kepada sesuatu atau seseorang. Cinta yang tidak mengarah ke subyek yang lain dan hanya untuk dirinya adalah cinta ego. Tapi harus diakui bahwa pada titik tertentu kita memang dituntut untuk egois (dalam arti positif) di mana kita memiliki moment penting untuk mencintai diri kita, keberadaannya serta atribut diri kita. Persoalannya, jika berlebihan? Cinta diri yang berlebihan itulah yang disebut egoisme negatif. Karena kita tidak hidup untuk diri kita bahkan demi yang lain kita berani mengurbankan apa yang terbaik dari diri kita.

Cinta dan pengurbanan

Apa yang kita lakukan ketika mencintai seseorang atau orang lain? Memeluknya setiap saat? Menggenggam tangannya setiap detik perjalanan? Menjaganya di saat malam tiba dan mentari terbit? Yang perlu dilakukan adalah mengorbankan diri. Hal ini tidaklah mudah bagi kita yang selalu menganggap kepuasan batin pribadi menjadi prioritas utama daripada kepuasan batin yang lain. Hanya orang yang berjiwa besar bisa melakukan ini. Zaman kita, tidak mudah untuk melakukan hal seperti ini. Malah ada yang mengeluarkan cemoohan, ah… buang-buang waktu saja. Pengorbanan. Yesus Kristus berani mati untuk banyak orang. Tidakkah kita berani mati pula untuk satu orang yang kita cintai???

 

Cinta dan permata

Apa yang kita cari ketika mencintai yang lain?? Intan, berlian atau permata? Atau malah tidak mencari apa-apa yang ujung-ujungnya kita tidak menemukan apa-apa pula?

Seorang pencinta sejati, dia mengendepankan prinsip cinta yang tulus untuk menerima dia apa adanya dan tidak pernah memanfaatkan subjek yang dicintainya untuk kepentingan pribadi. Mencintai yang lain bukan karena “ada apanya”, tetapi memahami serta menerima dirinya “apa adanya”. Ingat syair lagu lawas berikut ini “ harta adalah kiasan semata, kejujuran, keikhlasan itu yang utama”. Saya sependapat dengan gemahan syair lagu ini. Sungguh, krisis kejujuran dan keikhlasan dalam relasi cinta sedang melanda batin insan-insan pencinta dewasa ini. Mereka mengejar apa yang nampak yaitu harta bahkan mengorbankan yang lain untuk memeroleh harta tersebut.

Cinta for his memory

Tidak pernah menyisahkan kenangan, hanya mengukir kebahagiaan, itulah esensi cinta. Setiap apa yang kita lakukan bukan bermaksud untuk mengoleksi aneka kenangan, tetapi membawa relasi cinta itu ke puncak kehdiupan yaitu kebahagiaan. Itulah yang dicari oleh insan-insan dewasa ini. Jika kita tidak menemukan kebahagiaan karena mencintai orang lain, kita sedikit demi sedikit digiring ke sebuah sitiasi neraka daripada surga. Usahakanlah agar surga kebahagiaan itu diperolah dan digenggam serta meletakkannyaa sebagai meterai kehidupan yang tak terkira.

Mencintai  tanpa memasang target adalah mencintai tanpa pamrih. Kita berjalan dalam sungai yang mengalir dan tidak pernah dihantui oleh badai pemberangusan akajn kebahagiaan. Kita tidak pernah dikejar waktu, tetapi bersama sang waktu memupuk nilai-nilai kehidupan dalam mencintai.ketika kita membawa cinta itu ke haluan sungai yang mengalir, maka kita pun di giring ke samudera kehidupan yang luas. Di sana kita bisa menemukan nilai-nilai yang tiada taranya. Penemuan nilai ini membawa kita ke puncak kehidupan yaitu kebahagiaan.

perihal mencintai, orang lain adalah pembangkit cinta bagi kita. Cinta itu tidak diasalkan dari orang lain, lingkungan sekitar, atau semesta raya, dia diasalkan dari dalam diri. Namun, kadang kita tidak merasakannya. Dia bagaikan sosok raksasa yang tertidur pulas dan butuh dibangunkan. Orang lain adalah pribadi yang datang sebagai pengusik dan mengganggu tidur manis sang raksasa. Dari situ bangkitlah dia (cinta) dalam diri seseorang. Hanya bersama yang lain cinta itu bisa berdiri kokoh dan menampakkan diri. Dengan usaha sendiri, cinta itu terpaku di lorong kegelapan dan tidak menemukan arah ke mana dia pergi dan bersama siapa dia harus berdiri kokoh”

                                                                                    September 2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s