WAKTU (hidupdalam bingkai waktu)

 

 

                Hidup manusia selalu berpacu bersama waktu. Sejarahpun berjalan dalam waktu atau masa tertentu. Karena bersama waktu,kitapun dengan mudah mengingat bahkan memformulasi ulang pengalaman kita baik sekedar peringatan pribadi maupun koleksibaku atas pengalaman tersebut. Berbicara tentang waktu selalu kita kaitkan dengan setiap aktifitas yang telah berlalu bersama sang waktu  dan juga setiap harapan yang hendak terealisasi di masa depan.akankah kita abadi seperti sang waktu adalah abadi? Dan kemanakah tujuan akhir perjalanan hdiup manusia yang berjalan bersama sang waktu ini?

                Begitu banyak orang mengenal waktu. Namun, tidak pernah bertanya ke sisi yang dalam tentang apa itu waktu? Dalam keseharian kita hanya mengenal istilah waktu secara nominal yaitu tentang pergantian jam, hari, tahun bahkan abad. Namun, waktu lebih dari sekedar itu. Marthin Heidegger mengklasifikasikan waktu atas dua yaitu sebagai tempus dan sebagai pengalaman yang mengembangkan eksistensial manusia. Beliau menegaskan agar manusia menjadi tuan atas waktu bukan waktu menguasai manusia. Kitalah yangmnegatur waktu agar bersama waktu kita semakin berkembang dalam segala aspek kehidupan.

                Betapa seringnya manusia dewasaini yang sering menyesal kemudian karena dia menyia-nyiakan kesempatan. Dengan demikian, orang-orang semacam ini tidak berada bersama waktu.Atau dia tahu kalau dirinya berjalan dalam waktu, tetapi tidak memaknai setiap tapak kehidipan secara lebih. Orang yang ada bersama sang waktu, dia menata waktu itu sedemikian rupa dan sekreatif mungkin sehingga waktu yang dianugerahkan Tuhan tidak berlalu begitu saja. Waktu kemudian menjadi kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang integratif.

                Berada bersama sang waktu memiliki posisi yang sama dengan ada “yang berada di dunia” (being-in the-world) dalam perspektif Marthin Haidegger. Ada yang berada di dunia tidak sekedar hadir, tetapi menggumuli dirinya dengan berbagai aktifitas yang berarti untuk dirinya. Dia tidak sekedar lahir, ada dan mati. Tetapi menata dirinya untuk lahir, bertumbuh, dan berkembang menjadi manusia. Manusia sejauh manusia memiliki kapasitas di dalam dirinya untuk bertumbuh dan menjadi lebih manusiawi. Tidaklah berada di dunia jika keberadaan kita seperti benda mati yang tidak memliki daya untuk bertumbuh. Itulah sebabnya manusia berbeda dengan benda lain seperti batu. Manusia memiliki kekuatan kreatif untuk bertumbuh, sedangkan batu hanya sebagai ada yang mati.

                Manusia adalah mahluk yang bertujuan. Dalam pergumulan metafisika, analogi ini disebut analogia entis. Entis mau mengatakan sebuah aktifitas yang bertujuan. Sebagai mahluk bertujuan, dia mengespresikan daya yang ada dalam dirinya untuk tujuan tertentu dalam hidupnya. Entah dengan berpikir, bekerja ataupun di saat manusia berbicara dengan diri dan orang lain bahkan ketika berkontak secara personal dengan mahluk gaib dan transenden. Karena bertujuan itulah, manusia tidak mau kehilangan sedikitpun waktu untuk menemukan tujuan tersebut. Sehingga muncul adagium “waktu adalah uang”. Mengapa tidak? Begitu banyak orang menghabiskan waktunya untuk mencari uang dengan caranya masing-masing. Namun, apakah ketika manusia memiliki uang lantas dia  menemukan Tuhan atau kebahagiaan hidup? Pertanyaan ini penting karena menyentuh sisi terdalam dari eksistensi manusia di dunia sebagai pribadi yang sedang berada dalam perjalanan menuju ke dunia lain yang oleh masing-masing penganut agama menyebutnya secara berbeda. Ada yang menyebutnya surga, nirvana, tanah terjanji dan sebutan lain yang koheren dengan kepercayaannya. Dan sang ateis menyebutnya apa? Sejauh saya bukan ateis, saya tidak mengetahui dengan pasti di mana tempat peristirahatan terakhir dari sejarah dirinya.

Dalam predikasi diri sebagai pribadi yang sedang dalam perjalanan, tentu saja berjalan bersama dan dalam waktu, manusia dengan segenap kemampuanya berusaha untuk mengatualisasikan dirinya dengan tujuan yang beraneka ragam. Salah satu hal yang dominan adalah aktualisasi diri untuk menggapai kekayaan lahiriah berupa uang dan harta berharga lainnya. Benarkah pencarian terdalam diri (kedirian) manusia adalah harta semata atau ada pencarian yang lebih dari itu di mana pada saat yang sama manusia tidak merasa kekurangan apapun lagi? Harus diakui bahwa pola pikir dan gaya hidup modern membentuk manusia untuk memandang hidup ini secara materialistik. Yang penting materi terpenuhi, aku ada. Namun, sejarah kehidupan berkembang dan pada saat yang sama kerinduan manusiapun akhirnya berubah haluan dengan kembali ke semangat awal kehidupan yaitu mencari kekayaan batin yaitu spiritualitas kehidupan. Inilah pergerakan manusia postmodern yang melampaui gaya hidup modernitas. Manusia mulai mencari sisi terdalam dari pencarian dirinya. Manusia mulai mencari ketenangan batin dan kesejukan jiwa tatkala materi yang mereka miliki tidak memberikan apa-apa untuk hidup selain gaya hidup yang hedonis atau mementingkan unsur kenikmatan. Manusia sadar bahwa ketika kedirian manusia tereduksi pada unsur kenikmatan, tidak ada bedanya dengan hewan yang tidak memiliki akal budi dan hati nurani. Akhirnya manusia melepaskan budaya kenikmatan itu dan mulai mencari hakikat yang lain yaitu Tuhan.

                Dalam sejarah kehidupan, manusia memiliki gaya dan corak khas dalam menggiring hidupnya. Sejarah yang bergulir dalam waktu membentuk manusia yang dinamis dalam pekembangan peradabannya. Perkembangan peradaban itu dimulai dengan keterpesonaan manusia akan hal-hal yang mistis dan magis. Kemudian bergeser ke kepecayaan yang teistik di mana Tuhan adalah tokoh sentral dalam kehdiupan. Pada fase ini manusia sudah melepaskan diri dari jarahan mitologi. Manusia berpindah dari mitologi ke ranah iman. Setelah manusia sadar dan menemukan titik kejemuan dalam ranah teistik,ditemukanlah kesadaran baru yaitu “cogito” sebagai sentral. Manusia mengagungkan akal budinya. Dan dengan akal budi tersebut, manusia menjadi otonom bahkan hidup tanpa ikatan-ikatan termasuk ikatan dengan Tuhan. Manusia benar-benar bebas dari segala kungkungan.

 Namun, ketika manusia dengan daya rasio yang dimilikinya berusaha untuk otonom, manusia menemukan kecacatan dalam dirinya dan menemukan ada sesuatu kekurangan besar dalam dirinya yang harus diisi dan ditemukan. Hal itu ditemukan dalam kerinduan manusia akan pemeliharaan hati dan jiwa yang kegersangan akibat pendewaan “cogito” yang berlebihan. Dan pemeliharaan hati itu ditemukan ketika manusia berada dalam keheningan bersama Tuhan. Akhirnya manusia kembali kepada pemujaan akan hal yang transenden. Kehidupan manusia tidak lagi bersifat antroposentris, tetapi teosentris dengan sebutan dan gaya upacara yang berbeda-beda. Pencarian hidup manusia bersama waktu akhirnya ditemukan dalam persatuannya dengan Tuhan. Waktu yang semua didefinisikan sebagai uang berubah menjadi waktu adalah surga. Monsy

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s