FILM TWILIGHT DALAM TERANG FILSAFAT EKSISTENSIAL MARTIN HEIDEGGER

A. Pengantar Twilight adalah salah satu film serial yang banyak
disukai oleh seluruh penikmat dunia perfilman masa
kini. Film ini memiliki kekuatan magis para penikmat
film khususnya kaum muda atau remaja. Melewati
salah satu seri dari serial film twilight ini rasanya ada
yang kurang dengan dunia twilight. Pada mulanya cerita seputar kehidupan yang terdapat dalam film ini
adalah kisah tertulis dalam bentuk novel.
Sesungguhnya, ketertarikan peminat film kepada film
twilight ini bermula dari kesukaan mereka dengan
cerita tokoh-tokoh twilight. Ternyata efek audio visual
atas novel ini sungguh ditanggapi secara positif oleh para penikmat film.
Tulisan ini hendak membahas keterpautan pergumulan
eksistensial tokoh-tokoh dalam film twilight dalam
bingkai pemikiran filsuf eksistensial Martin Heidegger.
Pergumulan cerita fiksi tersebut sesungguhnya
merupakan pergumulan semua manusia dewasa ini. Pergumulan itu terjadi tatkala manusia ingin keluar dari
kemapanan hidupnya. Pergumulan seperti apa yang
ditonjolkan dalam cerita twilight ini dan seperti apa
kedirian manusia ketika berhadapan dengan
pergumulan hidupnya? Twilight Sebagai Bentuk Metanarasi Eksistensi manusia
Twilight Sebagai pertunjukan dunia kehidupan Begitu banyak orang yang terbius dengan hadirnya film
ini. Entah bagian apa dan kisah seperti apa yang
ditunjukkan dalam film ini, sehingga film ini menjadi
primadona bagi penikmat film secara khusus kaum
muda. Unsur kefiksian film ini tidak mengurangi
kemauan penikmat film untuk mengenal unsur ketegangan eksistensial hidupnya sebagai manusia.
Tatkala para tokoh dalam film ini memerankan kisah
hidup yang menegangkan, seolah para penonton
terbawa ke dunia kehidupan mereka. Kehidupan yang
penuh dengan unsur keluwesan dan ketegangan,
kekauan dan dinamisme, serta kebekuan dan suasana yang cair. Manusia sejauh manusia tidak pernah luput
dengan perasaan dan peristiwa yang menegangkan,
mencemaskan, serta mengagumkan.
Pemeran drama serial Twilight adalah Kristen Stewart,
Robert Pattinson, Ashley Greene, Peter Facinelli,
Elizabeth Reaser, Jackson Rathbone, Nikki Reed, Kellan Lutz, Taylor Lautner, Billy Burke, Cam Gigandet, Rachelle
Lefevre, Edi Gathegi. Bella Swan (Kristen Stewart)
memang gadis yang ‘berbeda’. Ia tak pernah merasa
cocok dengan teman-temannya di Phoenix High School.
Saat ibunya menikah lagi dan Bella memutuskan untuk
tinggal bersama ayahnya di kota kecil Forks, ia tak berharap akan ada perubahan banyak. Tapi
pertemuannya dengan Edward Cullen (Robert Pattinson)
yang misterius membuat hidup Bella berubah. Edward
tak sama dengan pria-pria lain yang pernah ditemui
Bella. Pesona Edward membuat Bella akhirnya jatuh
cinta pada pria misterius ini. Edward memang beda. Ia pandai dan lucu. Ia dapat
berlari lebih cepat dari singa gunung. Ia dapat
menghentikan mobil berjalan hanya dengan tangan
kosong. Dan ia tak pernah bertambah tua sejak 1918. Ia
adalah vampir.Tapi Edward dan keluarganya juga
berbeda dari vampir lain yang memangsa manusia. Buat Edward, Bella adalah wanita yang telah ia tunggu-
tunggu selama 90 tahun. Namun hubungan asmara ini
harus menghadapi masalah saat James (Cam Gigandet),
Laurent (Edi Gathegi), dan Victoria (Rachel Lefevre)
datang ke kota kecil Forks. Mereka adalah vampir-
vampir yang tak segan membantai seisi kota untuk memuaskan hasrat mereka.
TWILIGHT adalah sebuah film drama romantis yang
dirilis untuk konsumsi remaja. Kisah tentang vampir
sebenarnya hanyalah bumbu penyedap untuk
membuat film ini berkesan beda dari kebanyakan film
drama percintaan remaja Dan seperti kebanyakan film drama remaja, film ini juga mengusung tema yang
sangat sederhana. Bahkan bisa dibilang bahwa tak
banyak yang diceritakan film ini selain hubungan
asmara antara Bella dan Edward. Kisah tentang vampir
di sini sebenarnya tak terlalu punya kaitan yang cukup
kuat dengan kisah utama ini. Cerita tentang vampir ini hanya dibuat untuk membuat kisah ini jadi lebih
panjang karena konflik antara Bella dan Edward pun
sebenarnya tak terlalu banyak.
Dilihat dari sisi penyutradaraan, film ini juga tak bisa
dibilang memuaskan. Beberapa adegan terasa sangat
panjang tanpa jelas tujuan sebenarnya sementara di sisi lain, banyak karakter yang tak digarap dengan baik
sehingga keberadaannya terasa hanya sekedar
tempelan saja. Untuk disebut sebuah kisah asmara
yang romantis pun agaknya kurang tepat karena
jalinan emosi antara Bella dan Edward juga terasa
sangat tipis. Banyak dialog yang terasa janggal dan tak alami sehingga sangat mengganggu kredibilitas jalan
cerita secara keseluruhan. Usaha untuk mendefinisikan
ulang vampir pun membuat film ini jadi terasa aneh.
Misalnya saja dalam film ini digambarkan kaum vampir
ini tak lagi bisa dibunuh dengan cara menikam
jantungnya atau membakarnya dengan sinar matahari. Mereka juga tak lagi takut dengan benda-benda suci
seperti kayu salib atau air suci. Pendefinisian ulang ini
jadi membuat film ini makin sulit dipercaya. Prinsip eksistensial film twilight Jika dicermati dengan baik, cerita yang terdapat dalam
serial film ini berisi pergulatan manusia yang tidak
hanya berhenti duduk pada satu titik kehidupan, tetapi
ingin menyeberang ke titik-titik kehidupan lainnya.
Prinsip penyeberangan ini bermula dari sebuah
perjumpaan akan realitas atau kenyataan dunia kehidupan di luar dirinya. Itulah konsekuensi logis
ketika manusia bersentuhan dengan dunia kehidupan
dan pengalamannya sendiri. Tidak mudah bagi manusia
untuk menyeberang ke dunia kehidupan lain. Tetapi,
itulah isi cerita film twilight dalam seri-seri ceritanya.
Sebuah kisah penyeberangan hidup. Perjumpaan manusia (Bella) dengan sang vampir
(Edward) adalah permulaan cerita. Jika tidak ada
perjumpaan, tidak memunculkan cerita. Cerita itu
memuncak pada sebuah komplikasi unsur cerita yaitu
Bella yang mencintai Edward sebagai seorang vampir
dan kemauannya untuk menjadi vampir. Keputusan ini merupakan keputusan yang sulit sekaligus beresiko.
Keputusan ini adalah keputusan pribadi manusia yang
mencoba menggali pengalamannya ketika bersentuhan
dengan sisi terdalam dari panggilan hidupnya yaitu
mencintai yang lain. Pengalaman ada bersama sang
vampir baginya adalah pengalaman luar biasa. Lebih dalam lagi dari itu adalah ketika seorang manusia
bahkan jatuh cinta dengan sang vampir. Si vampir pun
mengalami getaran yang sama. Ada unsur chemistry
yang tercipta dari perjumpaan tersebut. Bagi Edward,
Bella adalah wanita yang berbeda di matanya. Dia
adalah misteri yang tak terpecahkan. Edward tidak bisa menembus sisi kemanusiaan si Bella. Namun, ketika dia
membahasakan perempuan lain, dengan mudahnya dia
berbicara dan mengenal dunia kehidupan wanita
tersebut. Karena perbedaan inilah, Edward jatuh hati
dengannya.
Migrasi eksistensial. Inilah istilah yang cukup tepat bagi perpindahan eksistensi manusia menuju ke dunia
kehidupan lain bagi Bella yaitu dunia vampir. Cinta
kemudian mengalahkan segalanya. Bagi Bella, cinta
merombak sekat-sekat dunia kehidupan. Tidak ada lagi
dunia manusia dan dunia vampir yang ditakuti. Asalkan
niat mencintai itu tulus, migrasi eksistensial ini akan terjadi dengan sendirinya sesuai dengan niat. Itulah
cinta. Dia membuat kita beranjak dari dunia kehidupan
kita dan bertemu dengan dunia kehidupan lain.
Berjumpa dengan dunia kehidupan lain, itulah akibat
dari keputusan untuk mencintai. Berpindah ke dunia
kehidupan lain adalah tindakan yang penuh dengan keberanian karena berpindah sama dengan kita
memulai dari awal kehidupan.
Mungkin menjadi lebih sempurna jika ada sebuah difusi
eksistensial. Difusi eksistensial hendak mengatakan
bahwa dua buah eksistensi menyatu dan membentuk
eksistensi baru tanpa menginggalkan corak khas masing-masing eksistensi. Bella sebagai manusia hidup
bersama dengan sang vampir (Edward) dan
kebersamaan keduanya membentuk dunia kehidupan
baru sebagai hasil peleburan dunia manusia dan dunia
vampir. Namun dalam cerita twilight, ekesitensilah
manusia yang hilang dan yang tetap mengada adalah eksistensi para vampir. Di sinilah letak ketidakdilan
migrasi eksistensial. Menjadi adil jika seorang vampir
tetap menjadi vampir tetapi keluar dari ikatan batin dan
jasmaniah dengan anggota keluarga vampir lainnya.
Demikian juga Bella tetap menjadi manusia, tetapi
keluar dari ikatan batin dan jasmaniah dengan keluarganya. Mereka bukan lagi dua (manusia dan
vampir) tetapi satu yaitu penyatuan kedua eksistensi.
Dengan demikian, migrasi eksistensial menjadi
sempurna.
Pernjelmaan Bella menjadi Vampir bukanlah cerita
yang baru. Cerita serupa terdapat dalam Injil (Alkitab). Yesus yang adalah Allah rela turun ke dunia dan
meninggalkan singgasana-Nya yang penuh kemegahan
untuk menjadi seperti manusia. Keinginan Yesus
menjadi manusia adalah wujud konkret dari cinta-Nya
kepada manusia. Jika kita memparalelisasikan kedua
cerita ini, konsep ceritanya sama. Keduanya sama- sama rela meninggalkan dunia kehidupan lama untuk
mengejar suatu nilai yang besar bagi dirinya yaitu cinta.
Migrasi esksistensial terjadi karena cinta, dalam cinta,
dan untuk cinta.
Berbeda deengan itu, dewa-dewi dalam mitologi Yunani
pun turun ke dunia dan berkontak dengan manusia bahkan ada yang mengawini manusia hingga
melahirkan manusia setengah dewa. Apakah
perkawinan Bella dan Edward akan mengahasilkan
keturunan setengah manusia atau setengah Vampir?
Dalam cerita Twilight Breaking Down , dilukiskan bahwa
Bella justru merasa terancam dengan kehadiran calon bayinya. Bayinya malah memiliki kecenderungan untuk
membunuh ibunya. Yang diciptakan malah membunuh
penciptanya. Problem Eksistensi dalam Wacana Filsafat Eksistensial
Martin Heidegger
Heidegger dan Makna Eksistensi manusia Martin Heidegger sepintas mungkin dinilai matematis
dan kaku dalam menenun eksistensialismenya. Namun,
hal tersebut sesungguhnya tidak identik dengan Martin
Heidegger. Ia memiliki bangunan filosofis yang
permanen dengan keterbukaannya yang luar biasa
untuk mengantar filsafat pada pencarian sesuatu yang terdalam pada hal-hal lain yang berada di sekelilingnya.
Hal-hal yang mengitari proses identifikasi human.
Dengan demikian filsafat Heidegger adalah rangkaian
arus berpikir yang tidak hanya mengetengahkan
makna dari penjumlahan dalam dan luar belaka,
melainkan bagaimana manusia dalam proses menjadi dan mencari arti keberadaaannya mampu memasuki
ranah makna hal-hal di luar dirinya sebagai dirinya.
Ekternalisasi eksistensialisme Martin Heidegger
merupakan salah satu bagian dari filosofi keberadaan
yang memberi ruang bagi interaksi manusia dengan
hal-hal sekitar. Kalau pada Sartre interaksi itu dipenuhi oleh gaya kebebasan, maka pada Heidegger interaksi
itu ditentukan oleh pemberian makna. Apa yang
dimaknai di luar diri kemudian menjadi salah satu
bagian yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi
manusia sendiri. Yang di luar manusia harus bisa dicari
benang merahnya dengan manusia itu sendiri. Semua yang di luar baru bermakna apabila manusia
mendekatinya. Manusia mampu menjadi yang lain
dengan mengembangkan pemaknaannya serentak
semua yang lain yang berada di luar manusia tersebut
ditarik ke dalam ranah individu, karena semua yang
lain itu adalah pemenuh arti manusia sendiri. Manusia menjadi penuh karena keterhubungan ini. Twilight dan Problem eksistensial Kepenuhan hidup manusia bagi Heidegger terjadi bila
manusia memberikan makna atas hidupnya dan
keterhubungannya dengan yang lain. Bagi Heidegger,
eksistensi manusia adalah eksistensi yang tidak
sekedar mengada untuk dirinya, tetapi rela melepaskan
tudung pribadinya untuk berhubungan dengan yang lain. Manusia perlu berinteraksi dengan yang lain. Yang
lain dalam konsep Heidegger adalah sesama manusia
dan apa saja yang dipuja manusia di luar dirinya
termasuk Tuhan. Vampir adalah yang lain bagi manusia
bahkan di satu sisi adalah yang lain sama sekali.
Dalam sejarah kehidupan, vampir adalah mahluk yang haus darah. Dan darah yang dicari adalah darah
manusia. Bagaimana mungkin eksistensi manusia
mengalami kepenuhan melalui interaksinya dengan
yang lain tetapi pada saat yang sama yang lain tersebut
malah menjadi ancaman bagi dirinya? Yang lain
mestinya menjadi pendukung pemenuhan hidup bukan malah sebagai ancaman. Tetapi, Bella rela mengambi
resiko demi tujuannya yang tertinggi yaitu mencintai
Edward. Pada titik inilah kita menemukan pergumulan
eksistensi yang cukup problematis. Persoalannya
semakin rumit ketika Bella ingin mengubah dirinya
menjadi vampir. Bella tidak mempertahankan pergulatan asalinya untuk mencari kepenuhan
eksistensinya sebagai manusia. Dia malah
meninggalkan jejak menjadi manusia dan memilih
untuk menjadi vampir. Perjumpaan dengan yang lain
malah mengubah status eksistensinya sebagai
manusia. Akhirnya, perjumpaan bagi Bella bukan untuk mencapai kepenuhan eksistensinya, tetapi
mengaburkan eksistensinya sebagai manusia.
Dalam kajian filosofis, sejatinya perjumpaan
menumbuhkan diri manusia sebagai manusia. Apalah
jadinya jika perjumpaan Bella dengan Edward
membangkitkan sisi lain dari sebuah arti perjumpaan yaitu pembunuhan eksistensi? Pembunuhan dekat
dengan pemangkasan. Pemangkasan dilakukan secara
perlahan. Namun, niat Bella untuk membunuh
eksistensinya adalah pasti. Tetapi usaha itu terjadi
dalam perjalanan menuju migrasi eksistensi. Pergulatan
Bella sesungguhnya berjalan dalam proses menjadi. Tetapi berbeda dengan pemikiran Heidegger. Bagi
Heidegger, proses menjadi adalah perjalanan menuju
kesempurnaannya menjadi manusia. Tetapi, proses
menjadi dalam serial twilight adalah pergumulan untuk
menjadi yang lain sama sekali. Menjadi bukan menjadi
manusia atau setengah manusia, tetapi menjadi seorang vampir. Kesimpulan Gambaran serial Twilight adalah kisah migrasi
eksistensial. Sebuah perpindahan keberadaan manusia
menjadi vampir. Menjadi seorang vampir bagi Bella
adalah keputusan final. Itu semua dilakukan demi
cintanya kepada Edward yang adalah anggota keluarga
vampir. Kekuatan dunia vampir melebihi dunia manusia. Hegemoni patriarkal dalam serial film ini
sangat menonjol. Dunia laki-laki mendominasi dan dunia
wanita harus tunduk di bawah perintah dan arahan
laki-laki yaitu sang vampir.
Dalam konteks zaman modern, modernitas dan segala
wajah kemajuannya tidak membawa dampak baik bagi kepenuhan diri manusia. Modernitas malah membawa
efek nirhuman. Sebuah efek yang membawa eksistensi
manusia tereduksi. Modernitas membangun krisis
eksistensial. Dalam keadaan krisis inilah Bella
mengambil keputusan untuk berpindah menjadi vampir.
Jika identitas dirinya tidak jatuh dalam krisis eksistensial, apapun bentuk tawaran dia tetap memilih
untuk menjadi manusia karena menjadi manusia
baginya penuh dengan kekayaan makna. Namun di sisi
lain, Bella mau membongkar kemapanan. Dia
mengalami sisi kemapanan menjadi manusia.
Membongkar kemapanan adalah corak semangat postmodernisme. Pemikiran postmodernisme
membongkar kemapanan dan mengajak manusia
untuk selalu beranjak. Hal yang sama terjadi dalam
percintaan dua orang yang menganut agama yang
berbeda. Demi cintanya, seorang perempuan
melepaskan agamaya dan memilih untuk memeluk agama yang lain.
Konsep eksistensi Twilight dan Heidegger sangat
berbeda. Bagi Heidegger, Bella malah berada di titik
problem eksistensi. Namun bagi Bella, apabila dikaji
lebih dalam justru dia mau beranjak menjadi manusia
walaupun beresiko baginya. Bukankah begitu banyak orang yang berani meninggalkan cara hidup lamanya
untuk sesuatu yang bernilai? Bukankah kita setiap hari
rela mengubah nasib untuk memperbaiki
kesejahteraan hidup? Migrasi eksistensial bagi kaum
fundamentalis adalah haram, tetapi bagi Bella migrasi
eksistensial adalah pilihannya yang tepat. Mau Mati atau berubah?? Wasallam!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s